Tak ada beda antara supermarket dengan partai politik. Banyak barang dijual, apa saja bisa didapat, mulai yang murah sampai yang mewah. Tumplek blek figure macam apapun; yang bringas, cerdas maupun yg modal dengkul.
Uang masih menjadi dewa untuk bisa masuk gelanggang politik. Para pemodal lebih banyak peluang, hingga berpolitik diidentikkan dengan mencari uang. Maka napsu memperkaya diri mengabaikan prinsip-prinsip moral.
Kasus dana nonbujeter departemen kelautan menunjukkan lahapnya partai politik mengeruk lumbung-lumbung lembaga pemerintahan yang harusnya mengayomi rakyat. Kakap-kakap politik tak pernah kenyang melahap pundi-pundi asset yang harusnya mensejahterakan rakyat. Tampikan tak menerima dana, ataupun diam dalam kerakusan masih mewarnai dinamika perpolitikan Indonesia.
Kemelut derita rakyat tidak banyak berarti. Alih-alih pembangunan, kesejahteraan hanya jadi pemanis saat kampanye. Bualan politik diiklankan dalam kampanye dan mengambil simpati masyarakat. Pranata politik berupa transedensi untuk mencapai kebaikan umum serta mletakkan dalam tujuan pokoknya pada tujuan bangsa dan negara takkan pernah tercapai.
Dasar partai Kucing Garong, main embat apa sing lewat..

No comments yet
Pengumpan komentar untuk artikel ini