Sejarah melesat seperti kilat. Suatu kejadian yang paling tragis sekali pun dalam sejarah suatu bangsa akan segera terkuburkan ketika esok hari telah muncul kejadian lain yang lebih baru. Satu bangsa menjadi seperti kumpulan orang-orang dengan ingatan-ingatan yang dangkal.
Andai zaman tanpa penanda, akan sirna semua goresan-goresan yang telah diukir. Sebuah tragedi tragis masa lalu kian lapuk oleh gilasan waktu. Orang kini mulai acuh. Tak ada bandrol yang menentukan kemana jejak ini dibangun. Kejahatan direduksi menjadi statistik. Kesedihan dan luka tak pernah menjadi dorongan untuk membuka tabir kebenaran.
Tindak kebiadaban telah hilang dalam bayang kemewahan dan kepongahan gaya hidup. Yang sering bicara sekarang bukan kebenaran tapi kekuasaan. Bukti telah disulap dan dikuasai menjadi kebohongan. Kebisuan pun diciptakan untuk mendukung pelupaan.
Kebenaran selalu bertarung diruang publik. Pelaku berusaha membuat kabar sepihak dan pembenaran tindakan. Dengan segala tindakan berusaha membungkam korban agar melupakan yang terjadi. Sementara korban, untuk sebuah kebenaran dan keadilan terus berupaya mengungkap kekejaman pelaku beserta payung politik yang melindunginya.
Aksi tiap kamis di depan Istana para keluarga korban adalah bentuk mengingat dan terus bersuara untuk menolak kebisuan dan pembungkaman suatu kejahatan. Milan Kundera sudah berpesan, perjuangan melawan tirani kekuasaan adalah perjuangan melawan lupa.
Rutinitas kamisan bukanlah semata-mata aktivisme, melainkan gerakan mengembalikan korban kepada fitrahnya, sebagai manusia, yaitu subyek yang dapat bertindak otonom dalam sebuah dunia yang ditinggali bersama.

No comments yet
Pengumpan komentar untuk artikel ini